NEWS

Sunday, March 17, 2019

INSIPRASI HIDUP : Belajar Dari Pak Ohen Penjula Amplop


Jakarta, SMA PGRI 24 Jakarta, Saat menuju Masjid Salman ITB untuk sholat jumat, saya melihat seorang Bapak tua yang duduk di depan dagangannya. Dia menjual amplop yang sudah dibungkus dengan plastik.

Amplop ?? Dagangan yang menurut saya aneh, diantara pedagang lain yang memenuhi pasar kaget di lokasi ini. Pedagang di pasar kaget ini umumnya menjual makanan, pakaian, mainan anak, elektronik dan lain-lain.

Amplop adalah barang yang tidak terlalu dibutuhkan pada zaman yang serba elektronik dan digital seperti sekarang ini. Masa kejaayaan pengiriman surat konvensional sudah berlalu, tetapi bapak ini tetap menjual amplop. Kalau saya pikir mungkin saat ini amplop hanya banyak digunakan untuk sumbangan atau acara kondangan pada sebuah hajatan.

Siapa yang mau membeli amplop itu ? Tidak satupun yang orang  orang yang lewat menghampirinya untuk membeli. Lalu lalang dan padatnya pengunjung seolah tidak mempedulikannya.

Saya mencoba menghampiri untuk membeli amplop, meskipun sebenarnya tidak terlalu memutuhkan barang tersebut. Tujuan saya hanya membantu penjual amplop melariskan dagangannya. Lantas saya bertanya, berapa harga amplop satu bunkus plastik ini pak ? “Seribu”, jawabnya dengan suara lirih. Ya, Tuhan, harga sebungkus amplop berisi sepuluh lembar hanya duribu rupiah? Uang sebesar itu hanya cukup untuk membeli dua gorengan yang berada disekitarnya.

Uang seribu rupiah di zaman seperti sekarang ini tidak terlalu berarti bagi kita, tetapi bagi bepak penjual amplop sangat berarti. Saya tercekat dan berusaha menahan air mata haru mendengar harga yang sangat murah itu. “Saya beli ya Pak, 10 bungkus”, kata saya kepada Bapak penjual amplop. Bapak penjual amplop terlihat gembira karena saya membeli amplop dalam jumlah banyak.

Bapak penjual amplop memasukan sepuluh bungkus amplop yang isinya sepuluh lembar setiap bungkusnya ke dalam bekas kotak amplop. Tanggannya terlihat bergetar ketika memasukkan bungkusan amplop ke dalam kotak. Saya berusaha bertanya lagi, mengapa bapak penjual amplop mejual amplop semurah itu, padahal harga sebuh amplop di warung tidak mungkin seratus rupiah.  Dengan uang seribu mungkin hanya mendapatkan lima amplop.

“Nama Bapak siapa?” tanyaku.
“Ohen, Cep”, jawab Bapak penjual amplop.
“Eta naon?” Tanya saya ketika tidak sengaja melihat selembar kertas di genggaman Pak Ohen.
Pak Ohen menunjukkan selembar kwitansi pembelian amplop di took grosir. Tertulis di sana pembelian sepuluh bungkus amplop, tujuh ribu lima ratus rupiah.
“Bapak hanya ambil sedikit, Cep”, katanya lirih. Dia hanya mengambil keuntungan dua ratus lima puluh rupiah untuk sebungkus amplop yang berisi sepuluh lembar.
Saya terharu mendengar jawaban jujur Bapak penjual amplop. Bisa jadi pejual lain di jalan ini menaikkan harga jual sehingga keuntungannya berlipa-lipat, tetapi Pak Ohen hanya mengambil keuntungan yang tidak seberapa. Andaipun terjual sepuluh bungkus amplop, keuntungan tidak bisa untuk membeli sebungkus nasi di pinggir jalan.

Siapa yang mau membeli amplop banyak-banyak pada zaman sekarang? Dalam sehari saja, saya rasa dagangan Pak Ohen belum tentu laku sepuluh bungkus, apalagi untuk duapuluh bungkus amplop agar dapat membeli nasih. Setelah selesai saya membyar sepuluh ribu rupiah untuk sepuluh bungkus amplop. Saya bergegas pergi meninggalkannya karena sudah tidak dapat menahan air mata haru saya.
Pak Ohen penjual amplop adalah salah satu dari mereka, yaitu para pedagang kaki lima yang dagangannya tidak laku-laku. Kondisinya sama seperti seorang pedagan ICT yang mengeluh dagannya tidak laku saat memaksa saya membelinya. Namun, Pak Ohen  bukanlah tipe manusia pengeluh, apalagi meminta-minta.

Pak Ohen banyak memberikan pelajaran kepada saya, menurut saya Pak Ohen lebih terhormat daripada pengemis yang berkeliaran di Masjid Salman, meminta-minta kepada orang yang lewat.
Di perjalanan sambil mengamati amplop-amplop yang saya beli, saya mengucap syukur. Bisa jadi melalui perantara Pak Ohen, Tuhan mengingatkan betapa pentingnya sedekah. Di kamar hotel setelah mengambil uang di ATM, saya memasukan uang satu per satu ke dalam amplop tersebut, berniat untuk memberikannya kepada yang berhak dengan segera.
Sudahkah Anda berbagi ? (Insiprasi cerita dari Ridho Daiman dan Sosok Ohen) 

Dikutip dari Buku : Provogasme, Motivasi Tanpa Menggurui : Teguh Hambudi

No comments:

Post a Comment